Harga minyak stabil di perdagangan Asia

Singapura (ANTARA News) – Harga minyak stabil di perdagangan Asia pada Rabu pagi, tertekan oleh prospek ekonomi global yang suram, tetapi didukung oleh kekhawatiran atas gangguan pasokan dari sanksi-sanksi AS terhadap ekspor Venezuela.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS diperdagangkan di 53,28 dolar AS per barel pada pukul 01.11 GMT (08.11 WIB), tiga sen di bawah penyelesaian terakhir mereka.

Sementara minyak mentah berjangka internasional Brent berada satu sen di atas penutupan terakhir mereka, diperdagangkan di 61,33 dolar AS per barel.

Ini mengikuti lonjakan harga dua persen pada sesi sebelumnya, ketika pasar mencerna sanksi-sanksi AS terhadap ekspor minyak Venezuela.

Washington pada Senin (28/1) mengumumkan sanksi-sanksi ekspor terhadap perusahaan minyak milik negara Venezuela, PDVSA, membatasi transaksi antara perusahaan-perusahaan AS yang melakukan bisnis dengan Venezuela melalui pembelian minyak mentah dan penjualan produk-produk olahan.

Sanksi tersebut, bertujuan untuk membekukan hasil penjualan dari ekspor PDVSA sekitar 500.000 barel per hari (bph) minyak mentah ke Amerika Serikat. Mereka adalah tantangan keuangan AS terberat yang belum dihadapi presiden sosialis Venezuela, Nicolas Maduro.

Langkah itu mendorong harga minyak pada Senin (28/1), tetapi pasar tampak lebih santai pada Selasa (29/1), karena sanksi-sanksi hanya berdampak pada pasokan Venezuela ke Amerika Serikat.

“Volume ekspor (Venezuela) tidak akan bisa dihilangkan dari pasar, tetapi dialihkan ke negara lain,” kata Paola Rodriguez-Masiu, seorang analis di konsultan Rystad Energy.

Dengan Amerika Serikat keluar sebagai pelanggan minyak Venezuela, dia menambahkan bahwa “China dan India … akan dapat mengambil volume minyak ini dengan diskon besar”.

Analis lain juga menunjuk pelemahan ekonomi global sebagai penangkal kekhawatiran sisi penawaran seperti pembatasan pasokan sukarela oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang dimulai akhir tahun lalu dalam upaya untuk memperketat pasar dan menopang harga.

“Krisis politik Venezuela serta janji Saudi untuk menurunkan produksi lebih lanjut seharusnya mendorong minyak mentah, tetapi menarik ke arah yang berlawanan adalah meningkatnya kekhawatiran tentang pertumbuhan global, terutama China,” kata Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank, Denmark.

Pertumbuhan ekonomi global dan konsumsi bahan bakar diperkirakan melambat tahun ini di tengah sengketa perdagangan antara Amerika Serikat dan China, dua ekonomi terbesar dunia.

Baca juga: Harga minyak dunia naik dua persen lebih

Pewarta:
Editor: Ahmad Wijaya
COPYRIGHT © ANTARA 2019